Saat Mahasiswa Memilih Senyap di Jalanan agar Suaranya Terdengar di Tugu Tani
By Admin

Ilustrasi Demo Mahasiswa
nusakini.com, Pekan ini, pemandangan berbeda tampak dari kerumunan elemen mahasiswa yang memadati kawasan Tugu Tani. Tidak terlihat lagi lautan warna almamater kebanggaan yang biasanya mencolok dan menjadi identitas pergerakan mereka.
Para pemuda ini memilih untuk melebur dengan masyarakat umum saat menyusuri jalanan menuju titik kumpul unjuk rasa. Keputusan berat tersebut diambil menyusul rentetan pengalaman pahit saat mereka diduga dihalangi aparat sebelum sempat bersuara.
Rasa frustrasi diakui kerap muncul ketika moda transportasi yang disewa tiba-tiba dibatalkan secara sepihak menjelang hari keberangkatan. "Karena kita kan sudah berkali-kali juga ya dicegat, bahkan bukan cuma dicegat aja tapi si Kopaja kita juga tiba-tiba membatalkan diri terakhir kali ya kan," kenang Fathimah Azzahra.
Hambatan berlapis di jalan raya rupanya mampu menggerus energi dan mental massa bahkan sebelum agitasi dimulai. Oleh karena itu, taktik keberangkatan secara mandiri menjadi solusi logis agar semangat juang mereka tidak layu di perjalanan.
Meski berbaris tanpa seragam kebesaran, mereka tetap menjaga kerapatan formasi guna mencegah pihak luar memancing keributan. "Nah, sebenarnya itu memang sebuah tantangan, tapi kita sudah menyiapkan mekanisme sih supaya kita bisa terhindar dari provokasi di antara kita gitu," tutur Fathimah.
Wajah pergerakan mahasiswa belakangan ini perlahan bergeser menjadi lebih tenang dan minim orasi meledak-ledak. Kelompok intelektual muda ini berharap, pendekatan yang lebih luwes justru merapatkan ikatan persaudaraan dan melancarkan komunikasi di lapangan. (*)